Guru Perempuan dalam Pendidikan

Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret merupakan bentuk pengakuan atas perjuangan perempuan di berbagai bidang. Sejarahnya bermula dari gerakan buruh di awal abad ke-20 di Amerika dan Eropa, hingga akhirnya diakui secara resmi oleh PBB pada 1977.
Peringatan tersebut menjadi momentum global untuk menyoroti pencapaian perempuan serta tantangan yang masih dihadapi, termasuk dalam dunia pendidikan. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjadi ujung tombak dalam sistem pendidikan.
Di Indonesia, jumlah guru perempuan sangat dominan. Data Kemendikbudristek mencatat bahwa dari 3,3 juta guru di Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023, sebanyak 2,36 juta atau 70,84% adalah perempuan.
Meski jumlahnya besar, tantangan guru perempuan terkait posisi kepemimpinan di sekolah dan kesejahteraan masih menjadi PR tersendiri. Padahal, penelitian oleh Cakra Wikara Indonesia dan INOVASI (2021) menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan cenderung memiliki manajemen yang lebih baik dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, guru perempuan tidak hanya bertanggung jawab dalam mendidik anak bangsa. Sering kali seorang guru juga harus menjalankan peran ganda di keluarga.
Kontribusi guru perempuan dalam dunia pendidikan bukanlah hal baru. Sejarah mencatat banyak tokoh perempuan yang menjadi pahlawan nasional berprofesi sebagai guru. Perjuangan mereka tidak hanya dalam mengajar, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif.
5 Guru Perempuan yang Menjadi Pahlawan Nasional
Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada individu yang telah berjasa luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan atau pembangunan bangsa. Beberapa di antaranya adalah guru perempuan yang mengajar serta memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan bagi kaumnya.
Berikut beberapa pahlawan nasional yang berprofesi sebagai guru perempuan:
1. Dewi Sartika (1884–1947)
Dewi Sartika adalah pelopor pendidikan bagi perempuan di Indonesia. Lahir di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884, ia mendirikan Sakola Istri pada 16 Juli 1904 di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah ini mengajarkan keterampilan rumah tangga dan baca-tulis bagi perempuan, dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk mandiri dan berperan aktif dalam masyarakat.
Pada 1910, sekolah ini dipindahkan ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetaman Isteri. Pada 1929, namanya diubah lagi menjadi Sekolah Raden Dewi. Dedikasinya dalam dunia pendidikan membuatnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966.
2. Rohana Kudus (1884–1972)
Rohana Kudus, lahir dengan nama Siti Ruhana pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Beliau adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang. Sekolah ini memberikan pendidikan keterampilan seperti menjahit, menyulam, serta pendidikan agama dan bahasa kepada perempuan.
Selain itu, Rohana juga aktif dalam dunia jurnalistik dengan menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ini menjadikannya salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Pada 7 November 2019, pemerintah Indonesia mengakui kontribusinya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.
3. Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) (1872–1946)
Siti Walidah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, lahir pada 3 Januari 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah putri dari Kiai Haji Muhammad Fadhil, seorang ulama terkemuka dan anggota Kesultanan Yogyakarta.
Sejak kecil, Siti Walidah tumbuh dalam lingkungan religius yang kental dan mendapatkan pendidikan agama yang kuat dari keluarganya. Pada usia 15 tahun, Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan, seorang ulama progresif yang kemudian mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912.
Pernikahan ini tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga memperkuat gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Sadar akan pentingnya peran perempuan dalam masyarakat, Siti Walidah mendirikan organisasi Sopo Tresno pada tahun 1914, yang awalnya berfokus pada pengajian bagi perempuan.
Organisasi Sopo Tresno kemudian berkembang menjadi ‘Aisyiyah pada tahun 1917, sebuah sayap perempuan Muhammadiyah yang berperan dalam pemberdayaan dan pendidikan perempuan. Melalui ‘Aisyiyah, Siti Walidah berupaya memberantas buta huruf dan meningkatkan kesejahteraan perempuan.
4. Rasuna Said (1910–1965)
Hajjah Rangkayo Rasuna Said, lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Beliau adalah seorang guru, jurnalis, dan politisi yang dikenal atas perjuangannya dalam emansipasi perempuan dan perlawanan terhadap penjajahan. Pada 1923, ia menjadi asisten guru di Sekolah Diniyah Putri, sebuah sekolah yang baru didirikan untuk pendidikan perempuan.
Rasuna aktif dalam dunia politik jurnalistik dan menggunakan platform tersebut untuk menyuarakan hak-hak perempuan dan kemerdekaan Indonesia. Berkat pidatonya yang mengecam pemerintahan Belanda, ia terkena hukum Speek Delict dan sempat dipenjara di Semarang pada tahun 1932.
Setelah kemerdekaan, Rasuna Said aktif di Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat dan sempat diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Selain itu, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga akhir hayatnya.
5. Raden Ajeng Kartini (1879–1904)
Lahir di Jepara pada 21 April 1879, R.A. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Terlahir dalam keluarga bangsawan Jawa, ia merasakan langsung keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada masanya.
Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini mengungkapkan keinginannya untuk melihat perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Pada 1903, ia mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi di Rembang, Jawa Tengah, dengan tujuan meningkatkan taraf pendidikan dan pemahaman mereka tentang hak-hak dasar.
Peran dan Tantangan Guru Perempuan
Penting bagi kita untuk mengakui peran guru perempuan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang membentuk generasi penerus bangsa. Namun, kita harus waspada terhadap tantangan yang menyertainya.
Peran dan tantangan guru perempuan antara lain:
1. Pendidik dan Pembentuk Karakter
Guru perempuan berperan sebagai pendidik yang mentransfer ilmu pengetahuan, sekaligus membentuk karakter siswa melalui pendekatan yang lembut dan empatik. Mereka sering menjadi figur ibu di sekolah yang memberikan perhatian khusus pada perkembangan emosional siswa.
Namun, peran ganda sebagai pendidik dan pengelola rumah tangga menimbulkan tantangan tersendiri. Beban kerja yang tinggi di sekolah dan di rumah dapat mempengaruhi keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi, serta kesejahteraan mental.
2. Pemimpin dan Pengambil Keputusan
Meskipun memiliki kompetensi, representasi perempuan dalam posisi kepemimpinan di bidang pendidikan masih rendah. Guru perempuan sering menghadapi hambatan kultural dan stereotip gender yang menghambat mereka untuk menduduki posisi strategis.
Kurangnya representasi ini dapat menghambat perspektif dan kebutuhan perempuan dalam sistem pendidikan. Selain itu, tantangan guru perempuan dalam mengelola peran ganda sering kali membuat mereka enggan mengambil posisi kepemimpinan yang menuntut waktu dan energi lebih.
3. Penyedia Dukungan Emosional
Guru perempuan sering menjadi tempat curhat bagi siswa, terutama dalam masalah pribadi atau sosial. Peran ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan psikologis siswa.
Namun, beban emosional yang ditanggung dapat mempengaruhi kesehatan mental guru perempuan. Kurangnya dukungan profesional dalam menangani masalah siswa juga menjadi tantangan yang perlu diatasi.
4. Pelopor Inovasi Pendidikan
Guru perempuan sering membawa perspektif baru dalam metode pengajaran, seperti pendekatan yang lebih inklusif dan kolaboratif. Mereka cenderung lebih adaptif terhadap perubahan dan inovasi dalam kurikulum.
Sayangnya, akses terbatas terhadap pelatihan dan pengembangan profesional menjadi tantangan guru perempuan. Keterbatasan waktu akibat peran ganda juga mengurangi kesempatan mereka untuk mengikuti program peningkatan kompetensi.
5. Penghubung antara Sekolah dan Komunitas
Guru perempuan sering berperan sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat, terutama dalam program-program pemberdayaan komunitas. Mereka memfasilitasi keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak.
Namun, norma sosial dan budaya tertentu dapat membatasi peran aktif mereka di masyarakat. Selain itu, tanggung jawab domestik seringkali membatasi waktu dan energi mereka untuk terlibat lebih dalam di komunitas.
6. Pendorong Kesetaraan Gender
Guru perempuan memiliki peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai kesetaraan gender kepada siswa. Mereka dapat menjadi teladan dalam melawan stereotip dan diskriminasi gender di lingkungan sekolah.
Padahal, mereka sendiri sering menghadapi diskriminasi dan stereotip yang menghambat efektivitas peran ini. Kurangnya dukungan institusional untuk mengatasi isu-isu gender juga menjadi tantangan tersendiri.
7. Penyintas Kekerasan Berbasis Gender
Guru perempuan lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender di tempat kerja, termasuk kekerasan seksual dan diskriminasi. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman dan mempengaruhi kinerja mereka.
Kurangnya mekanisme perlindungan dan dukungan bagi korban membuat mereka enggan melaporkan insiden kekerasan. Stigma sosial juga menambah beban psikologis yang harus mereka tanggung.
Melalui peringatan Hari Perempuan Internasional, kita diingatkan akan peran vital guru perempuan dalam membentuk karakter dan masa depan generasi penerus. Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mereka menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Penghargaan dan dukungan terhadap peran guru perempuan menjadi kunci dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan setara.